rupiah menguat

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Semakin Menguat

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat. Pada rabu ini, rupiah sudah dibuka pada angka 12.934 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di angka 12.955 per dolar AS.

rupiah terhadap dolar as

Sejak pagi hari hingga siang (saat postingan ini dibuat), rupiah masih mampu bertahan di bawah angka 13.000 per dolar AS. Jika dihitung sejak awal tahun, rupiah menguat 6.24 persen.

Sedangkan untuk kurs dari Jakarta Interbank Spor Dollar Rate (Jisdor), Bank Indonesia mematok di angka 12.926 rupiah per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya yang masih di atas angka 13.000 per dolar AS.

Melemahnya Dolar AS terjadi tidak hanya terhadap mata uang rupiah saja, melainkan pada mata uang lainnya. Pelemahan Dolar ini merupakan imbas dari hasil debat calon presiden AS kemarin.

Hal ini diungkapkan oleh analisis Credit Agricole SA David Forrester yang mengatakan kalau banyak pasar yang keluar dari perdagangan jangka pendek dari debat kemarin. Forrester menambahkan, akan ada resiko penurunan Dolar AS jelang pemilihan Presiden AS, namun masih bergantung pada jajak pendapat.

Rupiah berhasil menguat dan sudah melewati angka 13.000 per dolar AS pada perdagangan Selasa bersamaan dengan pelemahan dolar AS di pasar Asia. Ekonom PT Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan, hari ini penguatan rupiah bisa tertajan oleh dolar AS yang kuat serta harga minyak yang terkoreksi cukup tajam hingga dini hari tadi.

Gubernur BI beberkan penyebab melemahnya rupiah sepanjang Agustus 2016

gubernur bank indonesia

Sebelum ada berita tentang penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo sempat membeberkan penyebab nilai tukar melemah. Salah satu diantaranya adalah sentimen rencana kenaikan suku bunga sentral AS atau The Federal Reserve.

Agus sempat memperkirakan nilai tukar rupiah akan mengalami penguatan di pertengahan September mendatang karena didorong dari meningkatnya aliran modal asing seiring dengan meredanya sentimen terkait waktu kenaikan suku bunga AS pada September 2016 dan berlanjut implementasi UU Tax Amnesty.

Prediksinya sedikit melenceng, namun hal tersebut terjadi, rupiah kembali menguat sampai 6.24 persen. Untuk kedepan, bank sentral akan menjaga nilai tukar agar tetap stabil sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Penguatan rupiah benar terjadi adanya di bulan September ini dan penguatan bisa tertahan oleh harga minyak yang terkoreksi cukup tajam hingga saat ini. Semoga saja nilai tukar rupiah bisa bertahan di bawah angka 13.000 per dolar AS, bahkan semoga saja bisa terus menguat sampai dibawah 10.000 per dolar AS. Mungkin bagi Anda yang hanya sering belanja di dalam negeri atau lokal tidak akan merasakan dampak dari nilai tukar rupiah, namun jika Anda sering membeli barang secara import, sangat terasa sekali nilai tukar yang lemah membuat harga barang import semakin mahal, bahkan sampai banyak perusahaan yang mengandalkan import sampai memecat karyawannya untuk mengurangi pengeluaran perusahaan karena nilai rupiah yang lemah